Pelajaran Puasa dari Sang Ulat

 http://tienkartina.files.wordpress.com/2010/07/kupu2.jpg
Ditulis Oleh :Nur Afilin, Pada Tanggal : 15 - 08 - 2012 | 10:44:56
Tak hanya QS Al-Baqarah: 183, di bulan Ramadhan biasanya satu hewan ini pun ikut naik daun.  Mengapa? Setidaknya ada dua alasan mengapa kita perlu belajar dari hewan ini. Mari sama-sama kita bercermin darinya.

Ulat pun Taat
Sudah menjadi sunnatullah bahwa ulat memiliki siklus hidup tertentu. Sama dengan manusia dan makhluk Allah SWT lainnya, tentu siklus hidup ini ialah out of control, kekuasaan mutlaknya hanya di tangan Allah. Dan tahapan ketika menjadi kepompong itu amat menarik jika kita cermati. Coba kita tilik ayat Allah berikut:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”. (QS Al-Israa’ [17]: 44) 

Disebutkan dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir banyak riwayat terkait pembahasan ayat di atas. Namun, secara singkat, kesimpulannya ialah bahwa ternyata segala benda yang bernyawa maupun tidak bernyawa bertasbih kepada Allah. Sehingga tak heran kalau dalam beberapa riwayat Rasulullah SAW sebut kalimat tasbih itu sebagai dzikirnya semua makhluk di langit dan di bumi. 

Lebih lanjut, Ibnu Katsir juga menyebutkan persoalannya ialah manusia memang tidak diberi kemampuan untuk mendengar tasbihnya tumbuhan, hewan, dll. Dan memang itu bukanlah hal yang terpenting. Maka, banyak kalangan menilai bahwa siklus hidup dan insting hewan, misalnya, sebagai dua buah bukti tasbihnya hewan atau tumbuhan kepada Allah. Logis. Karena apakah mereka (hewan dan tumbuhan) itu berkuasa menciptakan sendiri siklus hidup dan insting yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan? Tentu tidak. Sejatinya mereka hanya menjalani apa yang telah Allah gariskan. Ketundukan dalam menjalani sunnatullah inilah yang sering disebut sebagai tasbihnya mereka kepada Allah.

Sehingga, masa menjadi kepompong bagi ulat ialah masa ia menjalani perintah sekaligus sunnatullah. Ia amat taat, tak ada sedikit pun kemauan untuk berontak kepada-Nya. Oleh karenanya, ulat yang secara kasat mata saja ternyata sedemikian taat, bagaimana dengan kita? Bolehlah ia itu buruk secara fisik dan rakus dalam perangai. Namun, bukankah saat ini juga tak sedikit manusia yang lebih rakus daripada ulat ini. Tak peduli halal atau haram, langsung tikam. Tidak jadi soal orang lain sakit, yang penting diri sendiri bangkit. Lebih parah lagi, tak sedikit Muslim yang tanpa udzur syar’i meninggalkan puasa Ramadhan yang wajib hukumnya. Lalu, masih pantaskah manusia macam ini dikatakan lebih mulia daripada ulat?

Puasa Ulat

Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada fase menjadi kepompong dalam siklus hidup ulat. Di fase inilah perilaku yang sebelumnya rakus, tak kenal malu, dan merugikan orang lain mulai hilang. Yang ada kemudian ialah entitas baru yang amat tunduk kepada Allah SWT. Ia tak lagi makan sembarangan. Mungkin hanya air embun pagi hari yang jadi sumber kehidupannya. Ia pun tak lagi berkeliaran meresahkan pemilik tanaman. Dikatakan bahwa fase kepompong ini berkisar 16-21 hari. Lebih singkat daripada puasa Ramadhan kita yang 29 atau 30 hari, bukan? Namun, coba kita tengok hasilnya. 

Lepas masa kepompong, maka tak ada lagi keburukan menempel dalam pribadi makhluk bernama kupu-kupu. Yang ada ialah keanggunan, kebersihan, ketertiban, dan ketaatan. Kupu-kupu tidak lagi seperti ulat yang telah menjadi masa lalu kelamnya. Biarlah dulu dihina, namun sekarang dipuja lantaran keindahannya. Tiada lagi sembarang makan, karena kini hanya sari bunga sebagai santapan. Tidak pula kini merugikan lantaran sekarang justru banyak dicari orang. Sungguh perubahan drastis yang luar biasa. 

Oleh karena itu, tidakkah kita menginginkan ibadah Ramadhan kita (khususnya puasa) berhasil mengubah pribadi kita? Tidakkah kita malu jika selepas Ramadhan alih-alih peningkatan amal, justru kemerosotan ibadah kembali kita jalani? Maka, tidak ada pilihan lain bagi kita, selain memanfaatkan momen-momen terakhir Ramadhan secara optimal. Salah pemanfaatan bisa berujung pada buramnya hari-hari pasca Ramadhan nanti. Tetap kobarkan semangat optimalisasi ibadah di bulan suci. Tak ada jaminan tahun depan Ramadhan bisa kita cicipi. Semoga ridho Illahi selalu menyertai. Aamiin. (Nur Afilin/Wasathon.com)

 

0 comments:

Post a Comment